Jadikan dirimu lemah lembut dan tenang; dasar hidup adalah diam
Menurut Dr. Fahruddin Faiz, ada lima hal yang dapat menjadikan dirimu lemah lembut dan tenang;
Yang pertama, ternyata untuk bisa bahagia, kita harus menghancurkan egoisme dan
menganggap kita manusia normal saja. Menurut saya menghancurkan egoisme itu,
seperti merasa selalu benar, rasa penting, rasa tinggi, dan rasa hebat. Ini
semua ego.
Akan lebih kondusif kita merasa sebagai manusia biasa saja, “iya
saya punya kelebihan tapi ya ada kekurangannya. Iya saya ngerti bidang ilmu ini
tapi banyak bidang ilmu yang lain yang saya gak bisa. Iya saya ini manusia yang
ada hal-hal yang dikagumi orang, tapi sebenarnya banyak juga dalam diri saya
hal-hal yang memprihatinkan.” Ini namanya hidup sebagai manusia normal saja.
Jadilah manusia biasa saja,
ini lebih membahagiakan. Karena kalau kita mengidentifikasi diri kita dengan
ego ego besar nanti jadi lelah hidup kita. Tidak usah mendeklarasikan sesuatu
pada dirimu, kamu akan terlihat baik dimata orang yang selalu memandang dengan
kebaikan. Tidak usah dengan memberi
label atribut yang memberatkan dirimu sendiri
Kemudian yang kedua, berhentilah bersikap
perfeksionis. Menipu diri sendiri. Kalau iya bilang ya, kalau tidak bilang lah
tidak. Tidak usah perfeksionis, orang tahu kok semua orang itu ada kurangnya
nggak ada manusia yang sempurna. Kadang-kadang salah sedikit, kadang-kadang
khilaf. Enggak usah menipu diri, itu akan lebih memberatkan kita, tidak usah
terlalu banyak pakai topeng lagi, topeng kita sudah banyak dalam hidup ini.
Yang membuat kita lelah itu kan karena kita menipu diri kita
sendiri, misalnya kalau ditanya Misalnya
kalau ditanya “kamu ngantuk tidak kalau mendengarkan ceramah seperti ini”
terus kamu jawab “nggak Pak saya melek terus tapi pas ngaji” jawab saja
sesuai perasaan kamu, tidak usah melabeli diri dan melebihkan sesuatu agar
terlihat indah, kamu boleh jawab “kalau ceramahnya terlalu panjang kadang-kadang
saya juga ngantuk” Wah itu kan lebih santai tapi karena kamu menipu dirimu
sendiri berkata akhirnya jadi konsekuensi yang harus kamu tanggung. Itu yang
disebut kesadaran sebagai manusia biasa saja, dan itu akan lebih membahagiakan.
Yang ketiga, untuk bisa bahagia adalah berjuang dan bekerja keras mencapai tujuan. Berikhtiar dan berusaha
sambil mengerti batasnya. Jangan dibiasakan menyalahkan keadaan, mencari
kambing hitam. Itu biasa kok, hidup itu ada sukses, ada tidak. Ada lulus atau
tidak lulus. Biasa itu, memang rumusnya begitu.
Wajar juga, tidak usah cari kambing hitam, tidak usah
menyalahkan keadaan, nanti tambah berat hidupmu. “Oh ini gara-gara
temanku ini tiap malam ngajak begadang saja, jadi ga lulus mata kuliah ini.”
Padahal memang kamu sendiri yang mau diajak begadang. Padahal sudah itu efeknya memang begitu, karena kamu begadang
enggak lulus biasa saja iya. “Berarti besok saya harus lebih baik” begitu
saja tanpa harus merasa bersalah berkepanjangan dan merasa berdosa.
Cukup kamu sesali, lalu kamu perbaiki ke depannya. Biar lebih bagus
hidupmu dan lebih membahagiakan. Tidak terlalu bertele-tele, apalagi kamu terus
menyangkal dan mencari-cari alasan. “saya itu sebenarnya rajin.” Tidak
usah pakai alasan macam-macam, yang sudah terjadi diterima saja. Wajar kok
orang itu kadang senang, kadang susah, kadang gagal, kadang sukses. Asal kita
bisa menata diri sehingga terus tambah baik tambah baik.
Keempat, minimkan ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan yang
tidak perlu. Mari kita sadari, kadang-kadang kecemasan kita itu tidak beralasan.
Biasanya tentang yang akan terjadi ke depan. Padahal, yang akan terjadi ke
depan kita tidak tahu, biarlah jadi rahasia Tuhan. Yang penting sekarang kita
berikhtiar semampu kita, sebaik yang kita bisa. Itu saja sudah cukup. Jadi hilangkan ketakutan itu, jangan urusi apa
yang sudah menjadi urusannya Allah.
Kemarin saya baca orang kena gejala penyakit psikosomatis. Jadi,
kecemasan di pikiran yang mengefek ke sakit fisik. Mungkin lambung, mungkin
vertigo. Jadi kalian jangan terlalu banyak overthinking, jangan terlalu banyak
mikir yang aneh-aneh dan yang tidak perlu, nanti jadi penyakit. Jadi ternyata tidak
selalu sakit fisik berpengaruh ke jiwa sebaliknya sakit jiwa bisa juga
berpengaruh ke fisik. Kalau sedang stress kadang rasanya tubuhmu lemas, enggak
bisa diajak apa-apa, tidak bergairah ngapa-ngapain.
Mari kita sadari dalam hidup ini isinya ada yang penting, ada yang
tidak terlalu penting. Tidak semuanya harus diutamakan. Kita nikmati saja. Kalau
masih muda itu rasanya ingin semua masalah di panggul sendiri. Nggak hanya
masalah pribadi, mungkin masalah kampusnya, masalah negaranya, masalah dunia,
diselesaikan sendiri. Iya, kamu boleh komen kecil-kecil, boleh usul
sedikit-sedikit, tapi tidak semuanya harus kamu perjuangkan sendiri. Kamu harus
punya prioritas-prioritas biar hidupmu lebih bahagia. Jangan semua masalah kamu
panggul sendirian.
Dan yang terakhir cara menaklukkan kebahagiaan adalah jangan membiarkan kita menjalani hidup autopilot. Autopilot itu tiba-tiba sudah seminggu ya kok cepet ya, sudah satu bulan kok tidak terasa ya.” Jalan seperti biasa. Tidak ada hal-hal special yang kamu jalanin. Itu sebabnya yuk mulai diseriusin putusan demi putusan, langkah demi langkah, biar tambah baik, tambah baik kualitas diri kita dan biar kita tambah bahagia.



Komentar
Posting Komentar