Merayakan kebodohan



Koar-koar “stop making supid people famous” tapi tanpa sadar justru jadi yang paling berkontribusi dalam membuat stupid people itu jadi famous.

Kadang seringkali tidak kita sadari kalau kita berteriak "stop making stupid people famous" tapi malah mempromosikannya, membicarakannya pada sebuah postingan, yang justru semakin menaikkan nama si oknum ke daftar pencarian teratas.

Sering bertanya kenapa orang-orang dengan kecerdasan rendah justru lebih disorot ketimbang orang-orang yang berprestasi. Orang-orang yang penuh dengan sensasi justru lebih terkenal daripada orang-orang yang sudah banyak berkontribusi baik untuk negara?

Nyatanya, manusia-manusia yang isi kepalanya penuh dengan kejenuhan ini butuh topik baru, yang isinya ga melulu tentang kerja dan kesibukan duniawi yang monoton. Kebodohan yang dibuat orang-orang diluar sana agar menjadikannya populer justru menjadi makanan bagi orang-orang yang hidupnya monoton ini. Menyadari kalau sikap dan prilaku yang dilakukan cukup out of the box dan cukup menarik untuk diperbicarakan.

Dipertontonkan sesuatu yang diluar kebiasaan manusia normal, menjadikan manusia kayak kita ini justru tertarik. Sehingga pada akhirnya kita nyatanya dipaksa mendongkrak popularitas seseorang. Entah dia terkenal atau tidak. Publik figur atau tidak. Semakin baik cara media membalut dramanya, maka makin tertarik pula kita menikmatinya.

Ini adalah akar yang telah kokoh didasar alam bawah sadar kita. Eksistensi berbanding lurus dengan kontroversi. Seperti Magnet yang menarik paku-paku kecil disekelilingnya. Semakin kuat magnetnya. Makin banyak paku yang terkumpul. Dan karena dia tokoh kontroversi yang terbalut 'paku'. Anda akan dipaksa benci. Sekaligus ‘tertarik' disaat yang sama. Tidak peduli anda atau saya merasa bodohnya membicarakan Magnet berbalut paku ini atas dasar 'Stop making Stupid People Famous'.

Selama media masih ada. Selama interaksi antar manusia terkait anomali masih ada. Karena kita juga bagian dari besi kecil bernama 'masyarakat'. Anda akan secara tidak sadar mendongkrak mereka. Katanya "karena kita butuh topik buat bahas sesuatu dan media memanfaatkan itu". Pemberitaan mengenai artis-artis lebay, pamer saldo atm atau kontroversi lain di bidang politik hanyalah makanan yang disajikan media.

Maka, berhentilah memberi kontribusi apapun.

Bahkan jika kamu hanya menulis komentar “berhenti deh bikin orang bodoh jadi famous” di bawah postingan yang membahas oknum tertentu, kamu telah menyumbangkan +1 poin bagi kepopuleran si oknum tersebut.

Stay silent, would you?

Dan perlahan-lahan, kepopuleran si oknum ini pun akan pudar. Simply karena tidak ada lagi yang membicarakannya. Banyak stupid people yang tidak perlu saya tuliskan pasti sudah terlintas dikepala kalian, sebegitu sensasionalnya mereka sehingga menjadikan kita mudah membranding mereka sebagai stupid people yang justru terus kita tonton kontennya dan bahkan kita tau seluk-beluknya ketimbang sosok yang berpretasi.

Beberapa manusia mampu memfilter pengetahuan yang masuk. Tapi sayangnya tidak semua manusia begitu kan? Terkadang, saking jenuhnya manusia mereka kehilangan kemampuan memfilter konten yang harus ditonton, bahkan sebagian lainnya menjadikannya standart hidup atau bahkan role model. Manusia cenderung tertarik dengan cerita manusia lainnya, dan itu normal. Hanya saja  yang gak normal adalah jika kita sekalian mendukung hal tersebut. Ada orang bodoh buat skandal. Anda mendukung skandal tersebut. Anda mendukung perbuatan tersebut. Anda mendukung ke-stupid-an itu .

SETIAP DUKUNGAN YANG ANDA BUAT = MAKING STUPID FAMOUS!

 

 




Komentar

Postingan Populer